2 sebelumnya hanyalah prolog,
Iya, aku egois. Aku akui keegoisanku yang jelas tersingkap di mata kalian.
Harusnya malam itu aku segera pulang, menghargai seseorang yang sudah bersedia melawan hujan hanya untuk membawaku pulang.
Aku akui aku anak kecil yang egois, tapi maaf keegoisan itu bagaikan pilihan yang tak memberiku kesempatan untuk memilih. Maaf karena keegoisan itu adalah jalan yang harus kuambil demi kalian. Jalan yang harus kuambil demi mimpi besarku.
Aku hanya tidak ingin dibatasi
Aku hanya tidak ingin terbatasi
Hanya untuk satu hal itu, tolong jangan batasi aku
Jangan batasi segala perjuanganku menggapai mimpi besarku.
Tampilkan postingan dengan label family. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label family. Tampilkan semua postingan
Sabtu, 05 November 2011
Membiru (2)
Kakak saya sedikit kesal, terus memutuskan main ke kost salah satu temannya. Ya sudahlah itu sama sekali bukan esensi yang akan saya bagi.
Bimbingan berjalan lancar hingga beberapa saat sebelum Mas Tentor menutup pembelajaran kala itu, ponsel saya berdering. Ternyata Papa saya telepon, ya dengan sedikit kesal. Tapi sama sekali tidak menganggu konsentrasi pada optik fisis
Perjalanan pulang ke rumah, di atas ojek, gerimis rintik-rintik, dan saya baru sadar kalau keganjalan baru saja terjadi. Papa menutup telepon sebelum saya selesai bicara dan memberi salam penutup. Sekejap kemudian mata memanas dan butiran - butiran kecil berlomba meloncati mata.
to be continued
Bimbingan berjalan lancar hingga beberapa saat sebelum Mas Tentor menutup pembelajaran kala itu, ponsel saya berdering. Ternyata Papa saya telepon, ya dengan sedikit kesal. Tapi sama sekali tidak menganggu konsentrasi pada optik fisis
Perjalanan pulang ke rumah, di atas ojek, gerimis rintik-rintik, dan saya baru sadar kalau keganjalan baru saja terjadi. Papa menutup telepon sebelum saya selesai bicara dan memberi salam penutup. Sekejap kemudian mata memanas dan butiran - butiran kecil berlomba meloncati mata.
to be continued
Jumat, 26 Agustus 2011
cerita
24 Agustus lalu adalah hari ulang tahun saya ke-17. Seisi rumah sibuk, bukan untuk perayaan ulang tahun sih, tapi hari itu adalah batas pengumpulan lomba menulis cerpen SOLOPOS. Karena karyanya sendiri dibikin sangat insidental, alhasil pengumpulannya juga sedikit kesusu.
Nah, demam lomba cerpen tidak hanya menjangkiti saya, tapi juga Mama saya. You should know that she is crazy about reading. Mama ikut buka-buka kumpulan cerpen Lomba Menulis Cerpen Remaja 2010 yang saya fotokopi dari salah satu teman.
Mama : Ini yang Dalam Penjara Kata ceritanya lebih bagus, tapi kok juara dua ya?
Saya : Soalnya ceritanya gampang ditebak, Ma. Kalau kata Bu Mamiek, guruku, cerpen buat lomba itu harus nggak ketebak endingnya.
Mama : Oooh
Saya : Paling apik yang mana, Ma?
Mama : Iki bacanya belum selesai.
Saya : Baca yang Cerita untuk Ayah. Menurutku itu paling bagus.
Mama : Lha kenapa ?
Saya : Soalnya ceritanya itu punya jiwa, jadi pembaca bisa hanyut dan benar-benar terbawa. Seolah-olah beneran ngrasain.
"Cerita yang baik tidak hanya memikat pembaca dengan keelokan kata dan keindahan cerita. Cerita yang baik adalah cerita yang memiliki jiwa, sehingga tiap hurufnya mampu merasuk ke dalam sukma pembacanya."
I grab the picture from asepd.wordpress.com
Dhani Puspita
Langganan:
Postingan (Atom)
