Pages

Rabu, 13 Februari 2013

222 : 6


Beberapa hari ini, saya menikmati hari – hari libur akhir semester yang minggu ini memasuki pekan kedua. Jumat minggu lalu tepatnya, kakak saya menyodorkan sebuah buku berjudul “Cado – Cado; Catatan Dodol Calon Dokter”, sebuah buku (mungkin lebih tepat saya sebut kumpulan cerita nyata super konyol) yang ditulis Ferdiriva Hamzah, dokter lulusan Fakultas Kedokteran Univeristas Indonesia. Pada buku setebal 190 halaman yang mengisahkan lika – liku perjalanan Riva (panggilan akrab dr. Ferdiriva) ketika menjalani masa rotasi klinis di berbagai rumah sakit di Jakarta dan sekitarnya.
Apa itu rotasi klinis? Setelah menyelesaikan pendidikan S1 selama 7-8 semester (bervariasi tiap universitas), maka seorang mahasiswa kedokteran akan mendapat gelar Sarjana Kedokteran serta mendapat gelar lain yaitu Dokter Muda alias ko ass (asisten dokter “beneran”). 
Bukan tentang Cado – Cado yang tiap barisnya mampu mengundang gelak tawa (perjalanan masa rotasi klinis dokter yang satu ini memang bisa dibilang konyol), atau dr.Riva yang kini telah mampu menyelesaikan pendidikan dokter spesialis dan bergelar spesialis mata. Yang ingin saya bahas adalah berbagai macam istilah kedokteran yang ditebar sang penulis di tiap lembar bukunya. Istilah – istilah dasar memang, seperti anamnesis dan penyakit nosokomial. Namun, saya yang notabene baru 6 bulan mengenyam pendidikan di fakultas kedokteran mampu menangkap kosakata yang bagi masyarakat luas lebih mirip bahasa alien. 6 bulan!
***
Suatu pagi di weekend lalu, saya tengah asyik berselancar di dunia maya (re: sign in facebook dan mengecek timeline twitter), tiba – tiba Papa saya datang dan meminta tolong untuk dibukakan website-nya MTA (Majelis Tafisr Al-Quran). Fyi, Papa saya sedang hobi – hobinya mendengarkan radio channel-nya MTA. Fyi (lagi), MTA adalah sebuah gerakan islam (entah pantas saya sebut organisasi masyarakat/ormas atau tidak) yang berkantor pusat di Surakarta dengan penceramah dengan popularitas paling tinggi bernama ustadz Sukina.
Di home laman MTA tersebut saya menemui berbagai kosakata yang, menurut saya asing, tidak pernah saya temui selama ini, seumur hidup saya 18 tahun 6 bulan sebagai seorang muslim. Selain menjamah website MTA, saya dan Papa juga membuka beberapa laman yang berada di halaman pertama yang ditampilkan google ketika kami mengetikkan kata kunci ‘Majelis Tafsir Al-Quran’. Lagi – lagi istilah yang bertebaran adalah kata – kata yang tidak saya tahu artinya. Sebagai umat muslim yang “living in the way of islam” sepanjang hidup saya, selama 222 bulan ini tentu saya tercengang menemui fakta dan realita bahwa saya tidak mampu mencerna kata – kata di beranda sebuah laman organisasi muslim. 222 bulan!
222:6 oh 222:6!
Logika saya mencerna bahwa kata – kata berbau medis yang ditampilkan dokter Riva tentulah lebih profundal (dalam) dibanding kosakata di beranda berbagai laman islami. Tapi toh nyatanya, kata – kata itu lebih mampu saya pahami ketimbang istilah keislaman yang tertuang di web – web yang saya bukan. Entah siapa atau apa yang salah. Yang saya tahu hanyalah 222:6 menunjukkan hasil 37; yang berarti saya telah menjadi muslim (dan mempelajari islam) 37 kali lebih panjang rentangnya dibanding perjalanan saya di dunia kedokteran. Namun hal itu belum menjamin bahwa kedalaman ilmu agama saya 37 kali lebih profundal dibanding pengetahuan saya di  bidang medis. Detik itu juga saya tentukan, saya akan mengikuti kelanjutan program AAI (Asistensi Agama Islam) di semester 2 nanti. Bismillah!

Posting yang menampilkan dua sisi ini terinspirasi dari buku Dewi Lestari yang akan diangkat ke Layar Lebar, RectoVerso. Singkatnya RectoVerso memiliki makna dua sisi. Di beberapa post selanjutnya akan kembali ditampilkan beberapa kisah dengan gaya penulisan yang berakar pada RectoVerso.

Senin, 11 Februari 2013

Catatan Akhir Semester


Tidak terasa satu semester sudah saya hidup sebagai Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada. Tutorial, praktikum, lecture, buku – buku teks tebal, jas laboratorium, pre-test dan post-test melengkapi hari demi hari saya kini. 6 bulan yang cukup melelahkan, meski sejujurnya saya masih sangat ‘abal’ dalam menjalani bangku kuliah.
Tiap scene yang saya jalani selama enam bulan ini tidak mungkin saya paparkan satu demi satu disini. Satu yang pasti, saya mulai (dan semakin) mencintai jalan yang telah saya ambil untuk berada di bidang ini. Semoga semester kedua dan seterusnya dapat saya jalani dengan jauh lebih baik!

Sabtu, 29 September 2012

Babak Baru



Tirai panggung yang megah telah terbuka. Babak yang baru tepat akan dimulai dan entah kapan akan diakhiri. Babak yang singkatkah? Tidak berujungkah?
Memulai babak baru mungkin bukanlah sesuatu yang baru –setidaknya bukan pertama kali-. Tirai dibuka, cahaya lampu siap menyala, puluhan bahkan ratusan pasang mata mengamati, panggung telah siap.
Kini saatnya berperan, menjadi pemeran – pemeran kehidupan. Tidak sehitam ke-antagonis-an yang nista. Tidak seputih ke-protagonis-an yang mendewa. Keabu-abuan yang terus berusaha memutih dalam kesucian hidup.

Kamis, 05 Juli 2012

Perjudian Cinta

Perjudian dalam Balutan Cinta

Mencintaimu dalam panggung perjudian. Bertaruh tanpa pernah tahu akan mendapat apa. 

Apakah engkau dan aku benar - benar bertaruh? Logika bisa saja bilang tidak. Tapi hati? Tentu ia akan berkata iya. Bukankah tetek bengek tentang cinta hanya hati yang bisa merasa?

Kita berdua sudah tahu sama tahu. Tentang suatu malam yang menyadarkanku tentang "Ya, Inilah hidup!" - sebagian berpesta sementara yang lainnya mandi air mata. Lalu Mamamu bertanya "Terus piye, Mas ?" Kamu diam. Di lain tempat aku pergi tidur dengan tenang, membiarkanmu menekuri jalan yang Tuhan beri ini. Bukankah ada-ku hanya akan menebar lebih bayak luka?

Kemudian waktu membuat semuanya seolah baik-baik saja. Kamu berjuang sangat keras, sangat. Jauh lebih keras dari apa yang sebelumnya pernah aku lakukan. Dan sekali lagi Tuhan yang akan menentukan jalannmu, jalan kita.

Tiga hari lagi semua pertanyaan yang menggantung di langit-langit otakku terjawablah. Tentang bagaimana dan apa. Tentang aku, tentang engkau, tentang kita.

Kegagalan-kah yang akan kau terima? Atau keberhasilan-kah yang akan engkau raih? Sejujurnya aku sama sekali tidak peduli. Bukankah apa yang telah dan akan kita jalani hanyalah perjudian cinta semata? Sama - sama bertaruh rasa, tanpa tahu akan mendapat apa. Sama - sama menggadaikan waktu dan cinta tanpa sempat bertanya akan bagaimana.
Bila kedua hati yang kita pertaruhkan adalah arus yang kadang deras dan kadang tenang. Tuhan lah yang akan menentukan kemana mereka akan bermuara. :)